[x]

deviantART

 
About Me Member Stock Photographer t3g4rz19/Male/Indonesia Recent Activity Deviant for 3 Years
Needs Premium Membership
Statistics 64 Deviations
205 Comments
2,790 Pageviews

YANG SUDAH TIDAK ADA DAN YANG BARU MUNCUL DI JOGJA

Thu Jul 3, 2008, 7:19 AM
Jogja berkembang dengan pesatnya, perubahan-perubahan yang ada kadang luput dari perhatian. Kita sering terkejut ketika menyadari perubahan yang ada. Di dalam tulisan ini, saya ingin sedikit membahas tentang perubahan-perubahan ini. Tulisan ini merupakan hasil pembacaan Jogja melalui Jurnal Pawon Volume II/Nopember 2005, dan Volume I/Desember 2004 sebagai tambahan materi.

Yang Saya Peroleh Dari Jurnal Pawon
Setelah saya membaca Jurnal Pawon Volume II/Nopember 2005, mata saya sedikit lebih terbuka terhadap pandangan warga Jogja pendatang terhadap Kota Jogja. Dari kesaksian mereka yang menulis di Jurnal Pawon edisi tersebut, saya mendapati warga pendatang lebih banyak memperhatikan perubahan kota ini dibandingkan penduduk yang dari lahir sudah merupakan warga DIY seperti saya sendiri.

Perubahan pertama yang saya tangkap setelah membaca jurnal ini adalah bahwa banyak tempat terkenal di Jogja yang beralih fungsi. Contohnya, Malioboro yang dulunya tempat nongkrong para praktisi seni karena tempatnya yang adem ayem, kini menjadi pusat perbelanjaan yang semrawut. Contoh lainnya adalah Senisono yang (baru saya ketahui) dulunya adalah tempat yang sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan berbau kesenian, entah pameran, pentas teater atau lainnya, sekarang bukan lagi tempat yang dapat diakses publik karena sudah menjadi satu kompleks dengan Gedung Agung.

Salah satu narasumber dari jurnal ini bersaksi bahwa dahulu di kiri-kanan Jalan Bantul, Jalan Kaliurang, Jalan Solo, dan Jalan Timoho merupakan pemandangan sawah yang indah. Kini tempat itu dijejali dengan bangunan-bangunan yang tidak semuanya menarik. Nara sumber yang lain menuturkan bahwa pembangunan kota tidak lain berupa “dari proyek ke proyek.” Ia memberi contoh bahwa tahun lalu misalnya, Kota Jogja marak dengan booming pembangunan mall. Tahun berikutnya marak dengan booming infrastruktur transportasi.
Dinamika Jogja berlangsung sangat cepat, setiap enam bulan sekali terjadi perubahan. Itu pendapat seorang narasumber di jurnal ini yang mengaku tinggal di Jogja sejak usia 3 tahun. Ia berpendapat lagi, Perubahan di Jogja relatif spesifik karena di sini ada bisnis, industri, juga idealisme budaya.

Dari yang saya baca, dari awal sampai habis, sebagian besar narasumber berpendapat hampir sama. Perubahan yang ada disebabkan oleh pengaruh warga pendatang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, juga perkembangan TI yang pesat di kota ini yang memperderas arus pengaruh dari luar Indonesia, disamping akses transportasi ke kota besar di Provinsi DIY ini juga relatif mudah.

Setelah selesai dengan tulisan saya sebelumnya yang membahas Jurnal Pawon Volume II/November 2005, akhirnya saya juga berhasil membaca sebagian besar isi Jurnal Pawon Volume I/Desember 2004. Sebelum berbicara panjang lebar, tulisan yang hampir seluruhnya bersumber dari Jurnal Pawon Volume I/Desember 2004 ini dibuat untuk melengkapi tulisan saya sebelumnya.

Hanya dua judul esai yang akan saya bahas karena dirasa paling relevan untuk membahas Budaya Jawa di Yogyakarta. ‘Relasi Lingual -Kultural-Politis pada Wajah Negara “Jawa = Ilang (Generasi yang Hilang) Jawane” ‘ karya Otto Sukatno CR dan ‘Teater Yogya Perlu di Ruwat’ karya Menthol Hartoyo telah saya baca dan saya ringkas dan interpretasikan. Karya yang saya sebut pertama banyak membahas tentang tata Bahasa Jawa dan sastranya yang ditinggalkan. Judul kedua membahas tentang redupnya teater-teater di Yogya setelah tahun 2000-an. Dua paragraf di bawah ini adalah ringkasan dari dua esai tersebut.

Judul pertama yang saya sebut menjabarkan tentang penggunaan bahasa Jawa yang tidak karuan pada saat ini. Ia (Otto Sukatno CR) mengungkapkan keprihatinannya terhadap hal ini. Sudah semakin sedikit orang-orang yang dapat menuliskan istilah-istilah Jawa dalam Huruf Latin dengant tepat. Kesalahan-kesalahan yang ada umumnya terdapat pada penggunaan huruf O dan A. Ada pula pengucapan Bahasa Jawa Ngoko yang sekenanya, yakni (menurut tangkapan saya terhadap esai yang telah saya baca ini) kata-kata Jawa Ngoko yang disusun dalam struktur yang mirip dengan Bahasa Indonesia. Otto menuturkan bahwa kesalahan-kesalahan semacam ini menjadi faktor kunci terhadap sekaratnya Bahasa (dan Sastra) Jawa. Faktor-faktor penyebab seperti lebih bergengsinya mempelajari bahasa asing dibandingkan bahasa daerah disebutkan di sini. Disebutkan pula, ironi mengenai bahasa Jawa yang sekarat namun tabiat buruk Orang Jawa masih tetap (di)lestari(kan).

“Barangkali era 90-2000-an adalah eranya teater kampus,” ungkap Menthol Hartoyo dalam esainya dalam Jurnal Pawon Volume I/Desember 2004 pada halaman 82. Menthol juga mengatakan bahwa hampir seluruh perguruan tinggi memiliki teater kampus sendiri pada masa itu. Di dalam esainya ini, dituturkan bahwa tahun 80-an para kritikus dan pengamat teater kerap memberikan ulasan dan wacana perihal teater. Kini di era 2000-an hampir semuanya bersembunyi. Hanya teater-teater bernama besar yang diulas dan dikritisi dalam rubrik budaya koran-koran lokal yang beredar di Yogyakarta. Penyebabnya, menurut Menthol Hartoyo tentunya, barangkali banyaknya faktor yang menciptakannya. Banyak pementasan di era 2000-an masih berkutat pada naskah-naskah lama yang terkadang tak lagi kontekstual dengan persoalan yang terjadi dalam masyarakat. “Jikapun berbeda hanya mengadaptasi dari naskah yang itu-itu juga,” tuturnya. Menthol berpendapat, untuk menanggulangi berbagai persoalan di atas, maka teater Yogya perlu diruwat. Definisi ruwatan dalam hal ini adalah pembersihan diri dari persoalan-persoalan yang menghimpit perkembangan kelompok-kelompok teater yang ada. Menthol berharap, ruwatan ini akan memunculkan berbagai metode, mulai dari proses regenerasi teater, pembinaan, hingga manajemen kelompok teater sampai pada manajemen produksi.

Dua esai yang telah saya baca dari Jurnal Pawon Volume I/Desember 2004 ini, dan esai-esai yang saya baca pada Jurnal Pawon Volume II/November 2005, menurut yang saya tangkap, memiliki satu persamaan. Semuanya mengungkap keprihatinan terhadap isi dari Yogyakarta yang dulu dibandingkan dengan yang sekarang, yang mengalami degradasi di berbagai bidang. Bagi mereka, barangkali Yogyakarta dahulu lebih ideal dibandingkan dengan sekarang. Namun, itu pendapat mereka. Orang lain bisa saja berpendapat berbeda. Yang saya ungkap dari dua volume Jurnal Pawon ini hanyalah satu dari sekian banyak wacana tentang Yogyakarta terutama dalam sisi pariwisata dan budaya-nya.

Yang Saya Lihat Sendiri Dan Sedikit Saya Dapat Dari Sumber Lain
Langsung saja, perubahan yang paling jelas saya lihat di Jogja adalah semakin padatnya lalu lintas. Dahulu, ketika tahun ’90-an, kondisi jalan Wates masih lengang. Keramaian hanya sampai daerah Gamping. Munculnya perumahan-perumahan di luar kota mempengaruhi hal ini.

Pada tahun 70-an, dari berbagai sumber yang saya dapat, dan dari tanda-tanda yang saya lihat, terdapat jalur kereta api ke arah Ambarawa (utara) dan Bantul (selatan). Perubahan yang baru-baru ini saya sadari ternyata sudah sejak lama berubah letaknya di daerah pasar Kranggan. Belum lama ini saya baru sadar, bahwa jembatan penyeberangan di depan pasar Kranggan ini sudah tidak ada, padahal saya sangat sering lewat di depan pasar tersebut!

Yang saya amati akhir-akhir ini, pada tengah malam, saya sering melihat anak-anak muda yang foto bersama di Tugu Jogja. Akan sangat menarik jika di sekeliling Tugu Jogja dibuat semacam bundaran dan zebra cross yang mengarah ke Tugu Jogja. Hal lain yang saya amati akhir-akhir ini adalah bermunculannya bursa-bursa tanaman hias. Saya menemukan bursa-bursa tanaman hias, di bekas kompleks Hotel Tugu (sekarang Kedaung Tabletop Plasa), di samping Mc.Donald Jalan Sudirman, dan di Jalan Bantul. Bus Patas Trans Jogja telah mulai beroperasi Maret 2008 lalu, sehingga menambah pilihan model transportasi di Jogja.

Semenjak peristiwa 27 Mei 2006 (gempa Jogja), beberapa tempat wisata di Jogja mengalami sejumlah renovasi. Contohnya adalah kompleks Taman Sari, yang sekarang berwarna krem, yang memperkuat citra arsitektur Portugis pada bangunan-bangunan di kompleks ini. Kandang Menjangan di daerah Krapyak-pun mengalami perlakuan yang serupa. Makam Raja-raja di Imogiri, dari berita yang saya dengar dan baca, terdapat sedikit perubahan gaya arsitektur. Arsitektur gaya Bali kini menjadi bagian dari bangunan-bangunan di kompleks pemakaman ini karena tukang-tukang bangunan yang bekerja merenovasinya kabarnya didatangkan langsung dari Bali.

Perubahan-perubahan yang ada, saya harapkan dapat memperkaya potensi pariwisata di provinsi ini pada umumnya dan Kota Jogja pada khususnya. Apalagi kabarnya di daerah dekat bandara Adisutjipto akan dibangun semacam terminal yang memberikan akses transportasi pesawat terbang, kereta api, dan bus patas Trans Jogja yang terintegrasi dalam satu tempat, sehingga semakin mudah bagi para pendatang untuk mengakses kota Jogja ini.

deviantID

No deviantID yet.

Devious Info

  • Current Residence: Yogyakarta
  • Favourite movie: Battle of Britain, Pocahontas, Doctor Zhivago
  • Favourite genre of music: Klasik
  • Favourite poet or writer: Chairil Anwar
  • Favourite photographer: Arbain Rambey
  • Operating System: Windows XP SP1 (bajakan)
  • MP3 player of choice: Winamp, XMMS, Sun MP3 player, iPod(belum punya).
  • Favourite game: Stronghold Cruscader, Disciples 2: Rise of the Elves
  • Personal Quote: Tegarlah dirimu!!

deviantART Notice

[x]

Comments


wah keren... hmm becak... tugasnya pak zacky kah?.....

--
- is nothing-
mapir ngeneh... lg nembe gawe DA kie... ;))
Numpang NdeLok-ndelok yo bos!! :gallery:
Lam KenaL..:w00t:









--
I start with a picture then finish it.
I don't think about art when I'm working.
I try to think about life.
ini deviant apa blog,.
titik api gak bkin deviant juga?

--
please visit my personal website: [link]

download this link!

www dot thedoart dot com
hello..
:D
saya watch yah galerynya..
:boogie:

--
" Do What You Wanna Do "
:D
silakan watch. Thanks.

--
-----
Rahayu wong kang uripe slaras karo sabda Dalem lan ngugemi dhawuh-dhawuh Dalem!
*indonesia [link]
sip sip sip..
:D

--
" Do What You Wanna Do "
:boogie:

Site Map